Slider

Jejak Nabi

Jejak Ulama

Jejak Ksatria

Pejuang Wanita

Jalan Cinta

Tahukah Kamu

Hari Pahlawan; Antara Fatwa Ulama dan Darah Syuhada



Dari  Surabaya… 

Lelaki perlente itu datang ke Jombang untuk sowan pada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. 

Meminta pertimbangan mengenai ulah Belanda yang ingin kembali menduduki Indonesia, pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sebagai pemenang perang, pasca Perang Dunia II Blok Sekutu yang terdiri dari AS, Inggris, Prancis, dll merasa di atas angin. 

Sementara Blok Central yang terdiri dari Jerman, Austria, Turki dll menanggung kerugian  luar biasa. Termasuk Jepang yang menjajah Indonesia ketar-ketir karena Hirosima dan Nagasaki lumpuh akibat bom atom yang dijatuhkan AS. 

Belanda yang tidak banyak berbuat dalam kemenangan Sekutu, menjadi sombong karena mendapat angin segar atas kemenangan itu. 

Belanda yang pada tahun 1942 diusir Jepang, tahun 1945 kembali mendongakan kepala di hadapan rakyat Indonesia yang sudah merdeka. 

Belanda menggandeng Inggris untuk kembali menduduki Indonesia. Jelas saja rakyat Indonesia geram.

Mendengar uraian lelaki shalih ini, Hadratus Syaikh mengatakan, “Kita perang saja,  ulama membantu, santri-santri membantu.”

Berbekal restu dari ulama terkemuka, lelaki yang bernama Sutomo itu kembali ke Surabaya dan langsung berorasi melalui corong Radio Pemberontak.

“Saudara-saudara, Allahu akbar! Semboyan kita tetap, merdeka atau mati. Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilahkemenangan akanjatuh ke tangan kita sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Allah akan melindungi kita sekalian.”

“Allahu akbar!”

“Allahu akbar!”

“Allahu akbar!”

“Merdeka!”

Teriak Bung Tomo. 

Rakyat Surabaya terbakar semangatnya, ghirah jihad menyala dalam dada mereka. Penjajah kafir itu harus diusir, harus hengkang dari bumi pertiwi. 

Siapa lawan Indonesia saat ini?

Bukan lagi Belanda, melainkan Blok Sekutu yang dimotori Inggris atas rengekan Belanda. 

Blok Sekutu yang pernah mengerahkan Brigadir 49, pasukan terbaik yang memecundangi Jepang di Burma, kini dikirim ke Indonesia dibawah pimpinan Brigadir Jenderal Mallaby.

Lantas apa yang terjadi?

Saat Blok Sekutu sedang jaya-jayanya, justru di Indonesia jenderal terbaiknya mati digempur rakyat Surabaya. 

Kematian Brigjen Malllaby ini menyalakan kemarahan kordinator Sekutu untuk Asia Tenggara, Letnan Jenderal Sir Philip  Christison.  

Insiden matinya Brigjen Mallaby itu menyebabkan Letjen Philip kalap dan mengirimkan Mayor Jenderal  E.C. Manserg, jenderal yang mengalahkan Jenderal Romel di Afrika yang membawahi pasukan Divisi ke-5 bersama 24.000 pasukan untuk menggempur Surabaya, ditambah 6000 brigade 45 The Fihgthing Cock dengan alat perang canggih, Thank Sherman,  25 Ponder, 37 Howitzer, 4 kapal perang  Destroyer, dan 12 pesawat Mosquito.

Terjadilah pertempuran dahsyat, bukan hanya bagi bangsa Indonesia, tapi bagi Blok Sekutu pun mengakui bahwa Pertempuran Arek-arek Suroboyo ini merupakan perang dahsyat di dunia. 

Terkenal dengan pertempuran 10 Nopember, yang hingga saat  ini diperingati sebagai hari pahlawan nasional.

Apa pelajarannya?

Indonesia ini unik, saat Tentara Sekutu meraih kemenangan demi kemenangan di berbagai wilayah dan negara, tapi tidak di Indonesia. 

Saat para panglima perang dari Rusia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Asia pulang dengan bangga karena membawa kemenangan, justru panglima dari negara antah-barantah Indonesia pulang tinggal nama. Itulah Indonesia.


Good by Jenderal Mallaby

#selamat hari pahlawan

_____

Sebagai sarana komunikasi dg penulis, sila boleh di sini:

fb: Ki Dedeng Juheri

ig: @dedengjuheri

twitter: @dedengjuheri

Sumpah Pemuda; Ooh Ternyata Begini Kelakuan Pemuda Zaman Dulu

Oleh: Dedeng Juheri, MPS.Sp., M.Pd (Dosen Universitas Insan Cendekia Mandiri)

@budiccline

Dulu pernah ada para pemuda luar biasa. Para pemuda belia yang menggagas kesepakatan kumpul bersama, berikrar dan berpadu dalam Kongres Pemuda II.

Pertemuan yang diselenggarakan tanggal 27-28 Oktober 1928 itu, menghasilkan satu kesepakatan yang hingga saat ini dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Peserta Kongres Pemuda II ini, berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu. Di antaranya Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dan sebagainya.

Pada kesempatan ini saya tak hendak membahas isi Sumpah Pemudanya, atau latar belakang dan sisi historis heroiknya. Biarlah menjadi bagian para sejarawan atau para ahli yang menjelaskannya. 

Yang ingin kita dibincangkan saat ini adalah sosok para pemudanya. Yang enerjik, semangat, berani dan tampil terdepan.

Saya kadang suka berpikir, takjub dan merenung, betapa para pemuda saat itu sangat bebeda dengan pemuda hari ini. 

Bila kita mendengar organisasi tertentu, ormas, partai politik, atau (maaf) sekedar organisasi yang lebih kecil semisal dewan keluarga masjid (DKM), biasanya yang menjadi ketua ialah orang tua yang berusia di atas 40-an atau bahkan 50-an tahun. 

Memang ada yang menjabat sebagai ketua di usia 30-an, tapi jumlahnya bisa dihitung jari. Apalagi yang usianya 20-an, hampir tak ada. Kecuali organisasi mahasiswa.

Tapi tidak demikian dengan pemuda yang hidup pada masa pergerakan, mereka jauh lebih dewasa dan matang cara berpikirnya. 

Banyak di antara mereka yang usianya muda belia sudah menjadi motor penggerak bagi perjuangan, bagi lajunya roda negara.

Bayangkan, Kongres Pemuda yang  melibatkan hampir seluruh perwakilan  pemuda Nusantara, mulai dari Jawa, Sumatera, Sulawesi dan sebagainya. Yang menjadi ketua kongres adalah seorang lelaki belia berusia 24 tahun, Sugondo Djojopuspito.

Pemuda belia lainnya yang aktif dalam kongres adalah J. Leimena dari Jong Ambon berusia 23 tahun, Mohammad Roem dari Jong Islamieten Bond  20 tahun, Johanna Tumbuan dari Jong Sulawesi 18 tahun, dan Muhammad  Yamin tokoh paling sentral dan pelopor kongres pemuda baru berusia  25 tahun.

Muda-muda bukan?

Mereka sudah aktif dalam pergerakan negara.

Jangankan kongres yang sifatnya kontemporer, sekelas Panglima Besar Negara yang memegang kebijakan pertahanan dan kemanan negara pun dijabat oleh pemuda 30 tahun, Jenderal Sudirman.

Gelar kiyai haji (K.H) pun demikian, pakar sejarah Ahmad Mansur Suryanegara mengatakan bahwa yang menyandang gelar tersebut bukan orang yang sudah tua, berjenggot, dan rambutnya ubanan, tapi para pemuda saat itu sudah digelari kiyai haji karena pemahaman terhadap agama sudah mumpuni dan tak diragukan lagi kiprahnya untuk masyarakat.

Misalnya usia 20 tahun, Kiyai Haji Mas Mansur sudah mendirikan Nahdlatul Wahthan (kebangkitan negeri) bersama KH Wahab Chasbullah yang saat itu berusia 28 tahun.  

Usia 26 tahun, Ir. Soekarno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia). 

Usia 24 tahun, Muhammad Hatta menjadi ketua Indonesische Vereeniging.  

Usia 30 tahun, HOS Tjokroaminoto menjadi ketua SI (Sarekat Islam) Pusat. 

Tan Malaka (24 tahun) dan Semaun (18 tahun) aktif di SI Semarang. 

Buya Hamka yang saat itu berusia 15 tahun, turut aktif di pergerakan Sarekat Islam. 

Terlepas dari setuju dan tidaknya kita pada ideologi yang mereka usung dan yakini, di sini kita mengambil pelajaran. Betapa bedanya pemuda saat ini dengan masa itu.

Dengan belajar sejarah semoga kita terdorong, bangkit, dan mulai berkiprah untuk perbaikan masyarakat. Sebisanya, sesuai kapasitas kemampuan kita. 

Tidak ada amal yg kecil bila dilakukan dengan baik.

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Ibnu Mubarak)

Apa yang saya tulis tekadang benar dan lebih sering keliru. Oleh karena itu, maafkan bila keliru. Salam orang awam tak berilmu.

Sebab-sebab Kekalahan

Oleh: Dedeng Juheri

Kota Qadisiyah gusar, penduduknya diliput khawatir yang mencekam. Istana Putih Kisra Persia di Madain bergetar, raja, panglima, jenderal dan semua aparat berserta rakyat disusupi resah luar biasa.

Bagaimana tidak, pasukan kaum Muslimin yang dipimpin sahabat agung Saad bin Abi Waqash hampir sampai ke hadapan mereka. Namun sebagaimana manusia memiliki rasa khawatir, kaum Muslimin pun harus mendamaikan perasaan menghadapi pasukan Persia yang tak terbilang di medan laga.

Khalifah Umar bin Khathab di Madinah merasa khawatir, maka melalui salah satu utusannya berkirim surat pada Saad sebagai panglima perang kaum Muslimin.

Tahukan engkau isi suratnya?

Bukan tentang strategi perang, bukan taktik menggempur musuh, dan bukan pula siasat pertempuran yang efektif memukul kekuatan lawan. Tapi Umar berpesan bahwa kunci kemenangan itu ketakwaan pada Allah Swt, menjauhi dosa dan maksiat pada-Nya. Sementara faktor kekalahan adalah maksiat dan dosa yang dilakukan.



Sayidina Umar menulis:

"Amma ba’du. Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukan untuk bertakwa kepada Allah Swt dalam setiap keadaan, karena takwa kepada Allah adalah senjata yang paling kuat dan strategi yang paling jitu untuk mengalahkan musuhmu.

Aku memerintahkanmu dan seluruh anggota pasukanmu untuk berhati-hati terhadap perbuatan maksiat, lebih dari hati-hati kalian terhadap musuhmu. Karena maksiat yang kalian perbuat lebih aku khawatirkan daripada kekuatan pasukan musuh.

Allah Swt memberikan kemenangan kepada pasukan Islam disebabkan musuh-musuhnya yang berbuat kemaksiatan. Kalau bukan karena itu, niscaya pasukan Islam tidak akan berdaya menghadapi pasukan musuh. Karena jumlah pasukan Islam tak seberapa dibanding jumlah pasukan musuh. 

Persenjataan pasukan Islam pun tak ada apa-apanya dibandingkan persenjataan musuh. Sehingga seandainya pasukan Islam dan pasukan musuh sama-sama berbuat maksiat, maka pasukan musuh akan menang karena mereka lebih kuat dari segi jumlah dan senjata. Jika pasukan Islam tidak berbuat maksiat, maka pasukan Islam akan menang, karena keshalihan mereka, bukan karena kekuatan mereka.

Kemudian ketahuilah, selama perjalanan kalian, Allah Swt mengirim para malaikat yang akan mengawasi. Mereka mengetahui apa yang kalian lakukan. Maka teruslah merasa malu kepada mereka. Janganlah kalian bermaksiat kepada Allah Swt, padahal kalian sedang berada di jalan-Nya.

Janganlah kalian berkata bahwa kalian pasti akan menang karena musuh-musuh pasti lebih buruk dari kalian, sehingga mereka tidak akan

mungkin menguasai kalian. Karena sangat mungkin sebuah kaum dikuasai oleh kaum yang buruk. Seperti Bani Israil yang dikuasai oleh kaum Majusi. Bisa demikian karena karena Bani Israil telah melakukan hal-hal yang membuat Allah Swt murka.

Mohonlah kepada Allah Swt agar menolong kalian melawan jiwa kalian, sama seperti kalian memohon pertolongan dalam melawan musuh-musuh kalian. Aku juga memohon hal itu untukku dan untuk kalian.”

Bergetar dada Saad mendapati surat dari Amirul Mukminin yang luar biasa, ternyata yang dikhawatikannya bukan pasukan musuh yang banyak, kuat, dan lengkap peralatan perangnya, melaikan Umar takut jika kaum Muslimin berbuat dosa.

Di sini kita menginfasi diri bahwa bila kita dirundung kerugian, kegagalan, gelisah, dan kesedihan yang mendera seolah tiada henti,

boleh jadi ada dosa yang kita lakukan baik disadari maupun tidak disadari. Mencurigai keburukan yang timbul dalam hidup kita bersebab dosa dan kemaksiatan yang dilakukan. Astahgfirullaha’adzim.

Sejatinya kita senantiasa berada dalam ketaatan pada Allah Swt dan menjauhi dosa yang bakal merugikan kehidupan. Sesungguhnya ketaatan adalah kunci kemenangan, kebaikan dan keberuntungan. Sementara dosa dan maksiat kunci kekalahan, kesedihan, dan kerugian.

Selebihnya, setelah doa dimantapkan, ikhtiar ketaatan kepada Allah kita sempurnakan, mari berserah diri pada-Nya dengan penuh keyakinan. Wallahu’alam.

Kunci Kemenangan

pexecls.com

Oleh: Dedeng Juheri
.
"Celaka kalian!" teriak Heraklius di bumi Anthakiah, Syam. Kaisar Imperium Romawi itu seolah tak percaya dengan apa yang terjadi. Pasukannya babak belur. Padahal jumlahnya banyak, bahkan jauh berkali lipat dari pasukan kaum Muslimin. Namun mereka menjadi pecundang di medan perang.
.
"Coba ceritakan tentang musuh yang memerangi kalian itu! Bukankah mereka juga manusia seperti kalian?!" Heraklius berang.
.
"Benar," jawab salah seorang tentara.
.
"Jumlah kalian lebih banyak atau sebaliknya?"
.
"Bahkan jumlah kami berlipat-lipat lebih banyak daripada jumlah mereka di dalam setiap kancah."
.
"Lalu ada apa, sehingga kalian jadi pecundang?"
.
"Karena mereka semua bangun menunaikan shalat malam,” jawab Salah seorang pembesar Romawi,  mereka berpuasa di siang hari, mereka menepati janji, mereka beramar makruf nahi munkar, serta mereka saling tolong menolong. Juga karena kami semua minum arak, berzina, melanggar yang haram, menyelisihi janji, berbuat ghashab (mengambil sesuatu tanpa izin pemiliknya, akan tetapi masih ada maksud untuk mengembalikannnya), berbuat zalim, menyebarkan permusuhan, meninggalkan hal-hal yang diridhai Allah, serta berbuat kerusakan di muka bumi."
.
Heraklius menghela napas, "Benar yang kamu katakan."
.
Pasukan raksasa dan jumlahnya berlipat ganda, bukan satu-satunya faktor kemenangan. Pasukan yang terlatih dan piawai, bukan juga penentu kemenangan. Demikian pula strategi, senjata dan teknologi mutakhir, semua itu hanyalah penopang.
.
Sejarah membuktikan banyak peristiwa, jumlah pasukan yang sedikit mempecundangi pasukan yang banyak, pasukan yang kecil meluluh lantakkan pasukan raksasa, dan pasukan yang bersenjatakan seadanya mampu memukul mundur pasukan bersenjata lengkap.
.
Demi Allah, kemenangan hanyalah milik-Nya. Upaya yang bisa kita lakukan adalah memantapkan berdoa, menyempurnakan ikhtiar, dan mendekati-Nya. Allah mencintai orang-orang yang bertakwa. Allah pasti menolong hamba yang menolong agama-Nya. ”Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)
.
Kekuatan iman menjadi energi penggerak jiwa, dan kemuliaan akhlak mengundang pertolongan Allah Swt. Sehingga dengannya terpancarlah kemuliaan sikap ksatria dalam setiap relung jiwa para tentara. Gegap gempita merambah kazaliman, memusnahkan kebathilan, dan meruntuhkan kehinaan. Terus melaju seperti gema syair ini:
.
Berderap penuh laju, beriring tanpa ragu
Menyibakkan angkasa,
gemakan pekik kemenangan
(Izzatul Islam : "Cahaya Abadi")
.
Allahu akbar!
.
Kunci kemenangan itu ada pada keimanan, ketataatan, sebagaimana nasihat Umar bin Khathab, "Kala kita tidak mampu mengalahkan musuh dengan ketaatan kita, niscaya mereka akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka."
.
Mendengar ucapan Umar di atas, Syekh Abdullah Azzam memberikan komentarnya dalam Wasiyatul Mustafa Ahlud Da'wah,  "Ternyata Umar, lebih mengkhawatirkan dosa-dosa pasukannya daripada kekuatan musuhnya. Ini bukti kesempurnaan pemahaman dan kebrilian akal beliau."
.
Ya, Umar memang lebih mengkawatirkan dosa-dosa pasukannya daripada kekuatan musuh. Umar lebih takut padan dosa daripada besarnya jumlah pasukan musuh, lebih takut dengan maksiat daripada perlengkapan senjata musuh. Umar menyadari bahwa perbuatan dosa adalah sumber datangnya bencana, kekalahan dan kehancuran umat ini.  []

Ilmu Perang


Oleh: Dedeng Juheri

Akhirnya Irak pun berhasil dibebaskan kaum Muslimin dibawah komando Saad bin Abi Waqqas.
.
Saad berencana membangun Kota Kufah, maka disampaikanlah niat baik ini kepada Amirul Mukminin Umar bin Khathab yang saat itu berada di Madinah. Umar merestui rencana Saad.
.
Disamping Masjid jami, saran Umar, hendaklah pula dibuat tanah lapang untuk para pemuda melakukan latihan perang, memanah, melempar tombak, bermain pedang dan berlatih kuda.
.
"Setengah dari ucapan beliau yang mashur," kata Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar, "Ialah, 'Ajarkanlah kepada anak-anakmu berenang dan memanah. Hendaklah mereka dapat melompat ke punggung kuda sekali lompat'." (Lihat tafsir Al-Azhar juz 10/43)
.
Mengapa Saad berencana mendirikan Kota Kufah? Lalu restu Umar pun disertai dengan harus dibuatnya sebuah tanah lapang? Tempat latihan para pemuda? Karena Sa'ad dan Umar mengerti betul sabda Rasulullah Saw bahwa Mukmin yang kuat lebih disukai daripada Mukmin yang lemah.
.
"Seorang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang Mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing keduanya terdapat kebaikan..." (HR Muslim)
.
Maka latihan fisik pun menjadi bagian penting untuk mencetak Mukmin yang kuat dan perkasa. Bukan untuk unjuk kekuatan dan hendak menyombongkan diri, melainkan merujuk kepada hadits riwayat Imam Muslim di atas, agar dicintai Allah Swt, juga untuk menopang ibadah yang memerlukan kekuatan fisik.
.
Nah, hari ini kita mendengar selintingan pelajaran perang akan ’dicubit’ dari mata pelajaran SKI atau Sejarah Kebudayaan Islam.
.
Benarkah?
.
Semoga salah dengar. Betapa kerinduan hati menyeruak menyeksamai tutur sahabat agung Saad bin Abi Waqqas, ”Dahulu kami selalu mengajarkan anak-anak kami dua kurikulum pendidikan islam utama; Quran dan Sirah Maghazi Rasulullah Saw.”
.
Lalu cucu Sayidina Ali bin Abi Thalib, Zainul Abidin menuturkan pengalamannya semasa belajar, ”Kami diajarkan pertempuran-pertempuran Rasulullah Saw sebagaimana kami diajarkan surat-surat dari al-Quran.”
.
Lalu bagaimana dengan kabar burung akan dihapuskannya materi perang?
.
Menyimak diskusi dalam sebuah group WA para ustadz, ada salah satu ungkapan menarik dari Ustadz Rahmat Idris, "Ini beda gaya Amerika dan Indonesia. Amerika sengaja membuat buku dan film perang kolosal untuk meningkatkan nasionalisme masyarakatnya. Khususnya para pemuda.  Dalam setahun ndak kurang 5-10 film diangkat untuk 'merayakan kemenangan' Amerika. Baik berdasarkan fakta sejarah atau cuma sekadar fiksi. Lihat saja trilogi Olympus Has Fallen, London Has Fallen, Angel Has Fallen. Mereka selalu waspada dengan serangan yg dapat terjadi kapan saja. Disini malah asik dengan film yg ngumbar anak muda nangis karena putus cinta, pocong-pocongan, kkn horror dan semisalnya."
.
Lantas bagaimana dengan kita?

Makan Bersama dengan Algojo yang Pernah Menyiksanya, Inilah yang Dilakukan Nelsin Mandela

Oleh: Dedeng Juheri
.
Usai keliling kota untuk melihat keadaan, Nelson Mandela dan beberapa pengawalnya singgah di sebuah restoran. Presiden Afrika Selatan (1994-1999) yang belum lama terpilih ini, terkenal sederhana dan tak terlalu ribet urusan birokrasi, sehingga rombongan kepresidenan itu tak minta perlakuan khusus sesuai protokoler kenegaraan.
.
Di saat yang sama, di sebuah meja sudut restoran itu duduk seorang lelaki sedang menunggu pesanan. Mandela yang menyadari itu memerintahkan salah satu pengawalnya untuk mengajak lelaki itu bergabung bersama rombongannya.
.
Lelaki itu disediakan tempat duduk spesial, tepat di samping presiden. Hidangan tiba. Rombongan menyantap makanan bersama, bersuka cita menikmati lezatnya sajian restoran. Tapi tidak dengan lelaki itu, wajahnya tegang, bercucuran keringat, dan tangannya gemetaran. Hanya beberapa teguk air dan sepotong roti saja yang disentuhnya.
.
“Tampaknya dia sedang sakit,” bisik salah seorang ajudan kepada Mandela, “Apa sebaiknya kami segera bawa ke rumah sakit, Tuan?”
Mandela tak merespon apa-apa, beliau membiarkan keadaan hingga membuat sebagian orang dalam rombongan itu kebingungan. Usai makan lelaki itu dipersilakan kembali ke meja makan tempat semula ia duduk dan menunggu pesanannya.
.
“Dia tidak sakit,” ujar Mandela yang  disimak rombongannya, “Keringat yang bercucuran dan tangan yang gemetar itu bukan karena sedang sakit, dialah sipir yang dulu menyiksaku ketika di ruang isolasi di dalam penjara. Pernah ketika aku haus dan meminta air darinya,  ia malah mengencingi kepalaku.”
.
Para ajudan dan pengawal presiden itu kaget, takjub, dan serius menyimak tuturan Mandela. Ada perasaan marah, kaget, dan ingin memberi pelajaran pada manusia yang sudah menghinakan orang nomor satu di negaranya itu.
.
“Dia gemetar karena takut aku akan membalas apa yang pernah dia perbuat terhadapku. Tapi aku tidak akan membalasnya. Dendam bukan akhlaku. Dendam tidak akan membangun negara, tetapi memaafkan selalu menjadi jalan menuju kebangkitan sebuah bangsa.”
.
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari sepenggal cerita ini? Ah, pembaca lebih tahu jawabannya. Hatur nuhuun. []

Gara-gara Kejadian Ini, Syaikh Mutawalli pun Membersihkan Toilet


 K E M U L I A A N
@dedengjuheri
.
Tetiba ulama besar itu minta sopir menghentikan mobilnya. Lalu keluar dan melangkah ke sebuah...
.
Masjid untuk shalat? Rumah makan untuk sarapan? Atau warung untuk sekedar ngopi?
.
Bukan. Tapi toilet.
.
Sang sopir yang mengikutinya merasa heran, sebab beliau ke toilet bukan untuk buang hajat atau ambil wudhu, melainkan mengambil sikat dan membersihkannya.
.
Lho, ada apa ini? Beliau bukan petugas kebersihan toilet, melainkan tokoh besar yang dihormati masyarakat. Ulama besar yang baru saja selesai mengisi acara di sebuah universitas ternama.
.
"Apa yang Anda lakukan, wahai Syaikh?" tanya sang sopir.
.
"Saya sedang menebus dosa yang baru saja saya lakukan," jawab Syaikh Mutawalli as-Sya'rawi Rahimahullah dengan nada lirih,  "Saya merasa bangga ketika pulang dari kuliah umum dan mendapatkan penghormatan yang luar biasa dari Universitas. Dengan begini, saya sedang menenangkan hati saya sendiri bahwa saya bukan siapa-siapa."
.
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari sepenggal kisah ini?
.
Sungguh Syaikh Mutawalli menyadarkan kita untuk senantiasa berendah hati, merenung dan menyadari diri, betapa lemah, hina dan rendahnya manusia di hadapan Allah Swt.
.
Penghormatan, sanjungan, dan meriahnya tepuk tangan kerap mengotori hati. Tumbuh bangga diri, sombong, dan merasa hebat.
.
Yang dengan kebanggan ini kadang manusia tergelincir pada lembah nista dan berlumur dosa.
.
Sehingga, mawas diri untuk senantiasa menyadari betapa kita lemah dan penuh dosa menjadi sebuah kemestian.
.
Para pembicara, ustadz, tokoh, guru, dosen, trainer dan semisalnya, adalah sosok-sosok yang rentan dihinggapi sombong sebab sanjung dan puji para penggemarnya, murid-muridnya dan mereka yang mengaguminya.
.
Apalah artinya kita dibandingkan keagungan Allah Swt, hanya butiran debu yang tak berharharga.
.
Ya Allah, ampuni dosa kami. Bimbing hamba yang lemah dan bodoh ini.[]