Slider

Jejak Nabi

Jejak Ulama

Jejak Ksatria

Pejuang Wanita

Jalan Cinta

Tahukah Kamu

» » » Inilah yang Dilakukan Yunus Saat Ditelan Paus

Oleh: Dedeng Juheri

Laa Ilaaha Illaa Anta Subhaanaka, Inniikuntu Minadzaalimiin..

Tiada Tuhan selain Allah, Mahasuci Engkau, Sesungguhnya aku termasuk orang yang dzalim, berbuat aniaya. (QS al-Anbiya [21]: 87)

Doa ini bermula dari beratnya beban dakwah yang dipikul Yunus selama di Ninawa. Betapa sulit, ganas, dan kerasnya penduduk Ninawa menentang ajakannya. Mereka tetap menyembah berhala, dengan cemooh, menghina, mengancam, dan mengusirnya.

Yunus mengajak siang dan malam, dengan sembunyi dan terang-terangan, dengan lembut dan tegas, juga melalui individu maupun kumpulan, tapi mereka tetap tak bergeming. Yunus diejek dan dihinakan.

Habislah kesabarannya, dengan penuh kemarahan ia meninggalkan Ninawa. Dengan harap azab menimpa penduduknya. Bukankah kaum sebelumnya pun demikian? Kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, Luth, dan sebagainya?

Tapi nampaknya Yunus lupa, bahwa kepergiannya bukan perintah Allah, melainkan karena ketidaksabarannya.  Ia menyerah, putus asa, dan pergi penuh kemarahan.

Tapi bagaimana pun ia orang baik, shalih, dan bersih. Allah amat menyayanginya, sehingga Allah tak membiarkannya begitu saja. Allah berikan pendidikan, terpaan, dan binaan kawah candradimuka padanya.

Yunus pergi dengan menumpang sebuah kapal, namun tetiba badai, ombak, dan gelombang mengamuk di tengah laut. Kapal berguncang, oleng, dan hampir karam ditelan gemuruh yang menggila.

“Salah seorang harus dipersembahkan bagi Penguasa Laut,” begitu keyakinan mereka. Selain itu kapal pun terasa kelebihan muatan, sepakatlah semuanya, salah seorang dari mereka harus dbuang.

Diundi, keluar nama Yunus. Nakhoda tak percaya, ia orang baik, shalih, dan jujur. Tapi karena tiga kali undian namanya keluar, akhirnya Yunus pun dilemparkannya.

Singkat cerita, Yunus ditelah seekor ikan. Sebagian ahli tafsir mengatakan, ikan tersebut dimakan ikan raksasa yang lebih besar. Lalu nyelosor ke dasar laut, inilah LOCK DOWN paling dahsyat, kegelapan di dalam kegelapan.

Ada tiga benteng kegelapan di sini. Gelap karena berada di perut ikan, gelap karena di dalam lalut, dan gelap karena malam. Gelap berlapis-lapis, gulita berpangkat-pangkat.

Dalam keadaan lemah, miskin, sunyi, sepi, sendiri, dan tiada yang dimiliki. Hati Yunus terenyuh, air matanya meleleh, dan lisannya bergumam:

Laa Ilaaha Illaa Anta Subhaanaka, Inniikuntu Minadzaalimiin..

Sebuah doa yang penuh kejujuran, mesra, dan indah. Menyadari sepenuh hati, mengakui sedalam jiwa, dan meresapi setulus nurani, bahwa tiada Tuhan selain Allah. Yang Mahabaik, Perkasa dan Penuh Kasih Sayang.

Lalu lisannya mensucikan, memuji, dan membesarkan keagungan-Nya.

Berikutnya Yunus mengakhiri doanya melalui pengakuan penuh ketulusan, betapa lemahnya diri, silapnya dosa, dan alfanya jiwa. Ia menyadari telah mebuat buruk pada dirinya sendiri, dzalim, dan aniaya.

Dengan melemahkan diri di hadapan Allah, mengiba dengan adab dan cinta, Allah curahkan kasih sayang melalui pertolongan-Nya. Yunus dimuntahkan ikan.

“Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis Yaqthin.” (QS Ash Shaafaat [37]: 145-146)

Bukan hanya dimuntahkan, tapi juga diantar hingga tepi pantai. Lalu dibaringkan di tempat yang  aman, yang tidak diganggu oleh binatang. Di antara pepohonan Yaqthin.

Apa itu pohon Yaqthin?

pexels.com


“Adalah Qar’u,” kata Ibnu Abbas, “dari jenis labu yang tidak disukai lalat dan serangga, sehingga dia menaungi Yunus hingga terjaga.”

Masyaallah..

Inilah pengakuan kejujuran, berdoa penuh kesantunan. Dalam kegelapan Yunus tidak minta agar dibebaskan, diselamatkan, dan ditolong agar selamat. Tapi yang ada adalah mengagungkan Allah dan mengakui kesalahan.

Allah suka dengan doanya, pengakuannya, dan sesal di hatinya. Allah berikan pertolongan, penuhi harapannya, dan curahi kenikmatan.

 “Doa Dzu Nun (Yunus) ‘Alaihissalam,” menurut Ibnu Taimiyah, “adalah di antara seagung-agung doa di dalam Al-Quran.”

Kita belajar dari doa ini, bahwa mengagungkan Allah dan mengakui kesalahan merupakan kebaikan. Melalui doa ini pula kita belajar bahwa berdoa itu dengan adab dan sopan santun, dengan merendahkan diri dan penuh ketulusan.

Doa yang merendahkan diri di hadapan Allah, bukan doa yang bangga dengan segala yang dimiliki, apa yang sudah dilakukan, serta meyakini diri sendiri dengan berbagai kelebihan.

Bukan doa lancang yang  berteriak:
“Bisa, bisa, bisa.”
“Jika yakin bisa, pasti bisa.”
“Sukses, sukses, yes, yes, yeah..”

Hari ini, kita menyadari bahwa lock down bagian dari tarbiyah, pelajaran, yang mestinya mengantarkan diri pada muhasabah, renungan diri, betapa banyak dosa dan alpa yang kita lakukan dalam kehidupan.

Dosa kepada Allah, menzalimi diri sendiri, buruk pada keluarga, jahat pada sesama, dan merusak alam sekitarnya. Saatnya kita taubat, mohon ampunan Allah Swt.

Semoga kita tidak lancang mendikte Allah, karena sesungguhnya Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana. Semoga Allah ampuni dosa kita, membimbing kita dalam kebenaran, melindungi kesehatan juga keselamatan di tengah wabah virus corona yang melanda. Allahumma amin.
__________
Sebagai sarana komunikasi dengan penulis, sila boleh di sini;
fb: Ki Dedeng Juheri
ig: @dedengjuheri
twitter: @dedengjuheri

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply