Slider

Jejak Nabi

Jejak Ulama

Jejak Ksatria

Pejuang Wanita

Jalan Cinta

Tahukah Kamu

» » » Kebangkitan Ertugrul, Narasi Pergerakan, dan Visi Rabbani


Oleh : Dedeng Juheri
.
“Siapa itu?” Tanya istri suatu hari. “Ia seorang lelaki luar biasa,” jawab saya, “Pantang menyerah dan perkasa.” Ia adalah ayah dari  para lelaki hebat, para pemimpin besar dan para penakluk dunia. Yang dari pernikahannya lahir Utsman, sang pendiri Daulah Utsmaniyah hingga 600 tahun lamanya.
.
Dari tulang sulbinya, kelak 151 tahun kemudian lahir sang penakluk Sultan Muhammad Al Fatih, 213 tahun kemudian lahir sang legendaris Sultan Sulaiman Al-Qanuni, dan 561 tahun kemudian lahir sang penjaga daulah Sultan Abdul Hamid II.
.
Ialah Ertugrul Bey (1189-1281) dari Suku Kayi yang merupakan marga Turki Oghuz, sebuah suku yang hidupnya berpindah-pindah semenjak Mongolia menghancurkan berbagai negeri kaum Muslimin, membunuh penduduknya, menjarah hartanya dan memporak-porandakkan kotanya. Baghdad ibu kota Khilafah Abbasiyah termasuk yang dihancurkan Mongolia  pada tahun 1258 M.
.
Suku-suku Turki yang semula bermukim di Asia Tengah, memutuskan untuk berpindah guna menyelamatkan diri dari ancaman Mongolia yang kian menggila, salah satunya Suku Kayi yang dipimpin Sulaiman Shah Bey ayah Ertugrul.
.
Kisah heroiknya ditayangkan dalam serial telivisi Turki dengan judul ‘Dirilis Ertugrul’ atau Kebangkitan Ertugrul, layar kaca Indonesia pun tak ketinggalan menyangkan kisah kepahlawanannya melalui Trans 7. India, Pakistan dan Malaysia pun tak ketinggalan.
.
Benar, bahwa keyakinan, cita-cita dan visi Rabbani harus dimulai dengan narasi, langkah nyata dan strategi yang cantik. Kisah kepahlawanan, kegigihan dan kebesaran adalah energi untuk membangkitkan ghirah (semangat) perjuangan menegakkan kebenaran.
.
Dengan kelebihan dan kekuranganya, hari ini Turki memulai narasi untuk membangkitkan semangat umat yang lama tertidur. Kebangkitan Ertugrul adalah pemantik agar sejarah bukan sekedar melihat tokoh, tanggal, dan tempat kejadian. Lebih dari itu adalah mengambil hikmah untuk menata arah, menyalakan semangat dan menumbuhkan keberanian untuk bergerak.
.
Ertugrul adalah salah satu dari sekian anak muda yang pada masa itu hidup dalam bayang-bayang kematian antara penguasa dzalim, kecongkakan Imperium Mongolia dan kesombongan Romawi Bezantium Ortodox serta rongrongan Imperium Romawi Barat dengan Templar Kinghts (Ksatria Templar) sebagai icon perang suci.
.
Ertugrul Ghazi lahir dan dibesarkan dalam klan warrior yang kuat, tangguh dan pemberani. Suku Kayi  mengalami konflik internal dengan banyaknya penghianat, juga eksternal yang bersinggungan dengan para Ksatria Templar dan Tentara Mongolia yang kian menggila. Konflik demi konflik yang terjadi kian mematangkan leadership (kepemimpinan) Ertugrul dalam menghadapi berbagai beban kehidupan.
.
Sementara itu para penguasa Muslim terpecah menjadi beberapa penguasa kecil dengan kebijakan masing-masing yang rawan konflik karena adu domba, hasutan dan strategi pecah belah. Sebut saja misalnya Dinasti Ayyubiyah, Dinasti Saljuk dan sebagainya.
.
Para ulama, tokoh masyarakat, dan kaum Muslimin mengharapkan akan lahirnya pemimpin baru yang bisa menyatukan dan membebaskan mereka dari perpecahan. Pemimpin yang menegakan keadilan di tengah-tengah rapuhnya persatuan umat.
.
Dalam pengembaraannya mencari tanah baru, Suku Kayi dibawah pimpinan Sulaiman Shah Bey, menawarkan jasa kepada Emir Halep (Alepo), Malik Zahir Aziz, untuk menjadi tentara yang mejaganya dari serbuan Tentara Salib dengan imbalan diperbolehkannya mendiami tanah subur di luar kota.
.
Pada saat bersamaan pemerintahan Alepo sedang disusupi intelejen Kekaisaran Bezantium melalui Ksatria Templar, sehingga konflik demi konflik yang terjadi hampir meledakan perpecahan berdarah di antara kaum Muslimin. Melalui keterlibatan Ertugrul yang dibantu oleh para ksatria Suku Kayi,  akhirnya intrik kekuatan Salib dapat dipatahkan.
.
Selesai sampai di situ? Belum. Rongrongan Imperium Mongolia yang kejam, ganas dan tak berperikemanusiaan adalah ujian keimanan bagi kaum Muslimin. Atas restu pimpinan tertinggi Ogodei Khan, Mongolia melancarkan aksinya untuk menguasai wilayah demi wilayah yang diduduki kaum Muslimin. Baiju Noyan sebagai salah satu pemimpin kejam Mongol merupakan momok yang menakutkan bagi keberlangsungan kedamaian.
.
Mongolia dengan perang bar-barnya bukan hanya membunuh tentara atau lelaki dewasa, melaikan juga membantai, memperkosa dan menghanguskan pemukiman kaum Muslimin. Para wanita, anak-anak dan orangtua tak luput dari aksi kejinya. Bahkan hewan ternak tak luput dari kejammnya pembantaian.
.
Dalam perjalanan mencari tanah baru berikutnya, Ertugrul membelah daratan menuju sebuah tempat yang amat jauh dari tanah kelahirannya. Tanah itu adalah Anatolia, wilayah Turki saat ini. Bersamanya ada 100 keluarga dan 400 personil tentara yang sigap dan siap menghadapi situasi genting yang terjadi.
.
Di tengah perjalanan, rombongan Ertugrul mendengar riuh rendah suara pertempuran. Ternyata di sana tengah berkecamuk perang besar antara dua pasukan yang saling menggempur, mendesak dan baku hantam. Pasukan kaum Muslimin Kesultanan Saljuk kewalahan, terdesak dan hampir kalah.
.
Dengan gagah perkasa, Ertugrul bersama 400 tetaranya langsung menceburkan diri dalam kecamuk hebat tersebut. Romawi Timur yang berada di atas angin, kaget seketika mendapati tentara tambahan gagah berani nan tangguh di medan perang. Suasana berubah, keadaan berbalik seketika. Pasukan Kekaisaran Romawi bertumbangan, sebagian balik kanan dan lari tunggang langgang.
.
Kesultanan Saljuk menang, tentara bergembira, panglima bahagia, dan Sultan Alauddin Kayqubad merasa bangga. Sebagai penghargaan dan rasa terimakasih, Sang Sultan pun mengundang Ertugrul ke Istana.
.
“Apa yang menyebabkanmu menolong kami,” tanya Sultan Alauddin, “Sehingga kami dapat memenangkan pertempuran?”
.
“Karena engkau adalah  Muslim,” jawab Ertugrul, “Dan agama kami menyerukan untuk membela kebenaran, menolong orang-orang terdzalimi. Orang-orang Mongol juga musuh kami dan musuh kalian.”
.
Perbincangan pun berlanjut dengan akrab dan penuh kebanggaan. Panca kaki tentang asal usul mereka akhirnya menguatakan ikatan persaudaraan, bahwa ternyata mereka bersal dari bangsa yang sama; Turki. Ada getar iman yang menyatukan keduanya untuk berjalan seiring selangkah dalam memuliakan agama Islam di muka bumi ini.
.
“Maka berangkatlah bersama kami,” ujar Sultan Alauddin, “Akan aku berikan satu tanah luas. Berjalanlah ke arah Konstatinopel,  aku akan amanahkan padamu menjaga Pegunungan Armenia di musim panas, dan Kota Sogut di musim dingin. Kalian memperoleh kebebasan mengelola daerah kalian, namun tetaplah bersama kami berjuang melawan Romawi dengan saling menguntungkan.”
.
Kota Sogut sekira 159 KM dari Istanbul saat ini. Kota Sogut (1231) menjadi tempat tinggal Ertugrul bersama 100 keluarga dan 400 tentaranya. Kota Sogut merupakan tangga pertama sebelum akhirnya  berdiri Kekhilafahan Utsmaniyah melalui putranya, Utsman I. Juga dua putra lainnya Saru Batu Savci dan Gunduz.
.
Seiring berjalannya waktu, pamor kepemimpinan dan kebesaran  Ertugrul kian menanjak. Perlahan tapi pasti beberapa suku menggabungkan diri sehingga pasukannya kian banyak, tangguh dan kuat. Ertugrul bersama pasukannya banyak membebaskan wilayah dari cengekeraman Kekasisaran Romawi.
.
Visinya makin bening, tekatnya kian bulat dan membaja, wilayah demi wilayah dibebaskan dengan gemilang. Anak-anak dididik dengan visi Rabbani untuk meninggikan Dien ini. Anak-anak usia 7 tahun sudah rampung menghafal Juz Amma, Surat Yasin dan Al Mulk.
.
Pendidikan akidah, ibadah dan jihad adalah upaya mempersiapkan generasi tangguh di masa mendatang. Pendidikan sirah, epik sejarah, dan kisah kepahlawanan menjadi kurikulum pendidikan yang menggetarkan jiwa.
.
Konstatinopel tidak takluk di masanya, tapi dari Kota Sogut inilah Daulah Ustmaniyah mulai  berdiri hingga 600 tahun lamanya. Yang di dalamnya lahir para pemimpin besar, para penakluk dan para panglima Muslim luar biasa.
.
Mengapa demikian?
.
Karena Ertugrul menyadari betul, hidup adalah perjuangan, jihad dan penghambaan. Yang darinya kita belajar untuk senantiasa memurnikan aqidah, memantapkan ibadah, dan terus bergerak dalam perjuangan mengapai kejayaan.
.
Yang darinya kita belajar  untuk tidak ongkang-ongkang kaki menikmati kemenangan, kesenangan  dan kemudahan hidup. Melainkan terus belajar, terus  ikhtiar, dan terus  berada dalam penghambaan yang mulia pada Rabb alam semesta. []
__________
Sebagai sarana komunikasi dengan penulis, sila boleh di sini:
fb: Ki Dedeng Juheri
ig: @dedengjuheri
twitter: @dedengjuheri

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply