Slider

Jejak Nabi

Jejak Ulama

Jejak Ksatria

Pejuang Wanita

Jalan Cinta

Tahukah Kamu

» » » Menyentuh Jantung Eropa


Oleh : Dedeng Juheri
(Dosen Agama Universitas Insan Cendekia Mandiri)

Ada satu masa dimana kaum Muslimin hampir menguasai Eropa. Bergetar hati raja Perancis, Jerman, Swiss, Burgundi, dan Italia. Bayang-bayang kepiluan terukir di benaknya.

Terbayang anak istri, keluarga besar, dan rakyatnya. Bagaimana nasib mereka di kemudian hari bila pertaruhan ini gagal dimenangkannya?

Sebagai panglima perang Eropa, Charles Martel merasa bertanggungjawab. Sejumlah 400 ribu tentara; gabungan kerajaan-kerajaan besar Eropa siaga dengan kekuatannya.

Sementara itu, 50 ribu pasukan kaum Muslimin dibawah panglima perang mujahid agung, Abdurrahman Al-Ghafiqi, berhasil menduduki Poitiers, sebuah wilayah yang hanya 100 km dari Paris.

Ini merupakan pukulan telak bagi Eropa, sehingga membuat berguncang jiwa-jiwa penguasanya, bergetar hati-hati penduduknya, dan resah menyelimuti segenap wilayahnya. Peristiwa ini dicatat para sejarawan tahun 732 M.

Kegemilangan demi kegemilangan di medan tempur, menorehkan nama Abdurrahman Al-Ghafiqi sebagai salah satu panglima perang shalih nan brilian. Dibawah komandonya, kaum Muslimin berhasil membebaskan banyak kota di Eropa, termasuk wilayah Spanyol dan merangsek ke Perancis.

Selangkah lagi, Eropa bakal jatuh. Tinggal berbekal keyakinan, kesabaran, dan litle magic yang indah kaum Muslimin dapat menguasai benua itu.

Litle magic di sini bukan sihir, melainkan cinta, ukhuwah, persatuan, dan kebersamaan yang memesona.

Tapi begitulan manusia, tempat silaf dan alpa. Kemenangan demi kemenangan yang selama ini diraihnya, harta rampasan perang yang diperolehnya, jasa-jasa perjuangan yang ditorehkannya, dan luka-luka perang sebagai buktinya, berhasil setan hembuskan menjadi sebuah kebanggan. Niat jihad sebagai ibadah untuk meninggikan agama-Nya, tecampuri urusan duniawi. Bergeser menjadi kedengkian di antara sesama.

Terjadi perpecahan antara satu pasukan dengan pasukan lain, antara kelompok dengan kelompok lain. Merasa paling berjasa, paling berhak, dan paling hebat.

Bayangkan!
Saat pelik, saat kaum Muslimin harus merapatkan barisan, bergandeng tangan, dan memantapkan keyakinan dalam pertempuran, yang terjadi malah perpecahan.

Abdurrahman berusaha memahamkan, namun situasi, kondisi, dan gelombang perang tak bisa ditangguhkan. Dua kekuatan raksasa itu berbenturan.

Pertempuran dahsyat pun meledak tak terbendung. Dua belah pihak berguguran. Kaum Muslimin jatuh bergelimpangan.

Dalam kecamuk pertempuran hebat itu, sebilah anak panah menembus dada sang panglima. Darah bercucuran, sakit tak tertahankan. Mujahid agung Abdurrahman Al Ghafiqi syahid di sana. Semoga Allah menyayanginya.

Inilah titik nadir sejarah, kurva kekalahan perang turun sangat tajam, miris, dan meyedihkan. Titik terburuk penaklukan Eropa yang memilukan.

Ini pula yang menjadi tawaqquf futuhat, berhentinya pembebasan Eropa melalui pertempuran dahsyat yang teramat disayangkan. Yang menurut sebagian sejarawan sebagai kekalahan tragis nyaris dibawah Uhud, Hunain, dan Granada yang melegenda.

Panggung sejarah pilu ini dikenal sebagai Bilath Syuhada, atau Medan para Syuhada, karena teramat banyak kaum Muslimin yang syahid di dalamnya. Semoga Allah meridhainya.

Sepenggal episode ini, semoga menjadi pelajaran bagi kita. Bahwa keyakinan dan ukhuwah tak bisa dipisahkan.

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui hati-hati ini berhimpun dalam cinta padaMu, berjumpa dalam taat padaMu, bersatu dalam naungan dakwahMu, berpadu dalam membela syariatMu. Ya Allah, teguhkanlah ikatannya."
~ doa rabithah ~
_
Sebagai sarana komunikasi dengan penulis, sila boleh di sini:
fb: Ki Dedeng Juheri
ig: dedengjuheri
twitter: @dedengjuheri

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply