Slider

Jejak Nabi

Jejak Ulama

Jejak Ksatria

Pejuang Wanita

Jalan Cinta

Tahukah Kamu

» » » Narcissus; Asal-usul Narsis


Oleh: Dedeng Juheri
.
Tiap kali berkaca, senyum memikat itu selalu menghias wajahnya. Riak air danau, selalu jujur menampakkan rupa menawannya. Ia terlahir dengan anugerah yang indah, wajah yang tampan, kulit yang bersih, mata yang bening, dan  tubuh yang atletis.
.
Tak sedikit gadis yang terpikat. Sekali lirik saja sudah cukup membuat mereka jatuh cinta. Terpesona dengan pandangan pertama, dan tertegun dengan tampilannya. Lalu tersipu membayangkan pemuda itu menjadi suaminya.
.
Tapi sayang, tak satu pun wanita yang mampu memikat hatinya. Semuanya dibiarkan, diabaikan dan tak dihiraukan. Tak peduli seberapa cantiknya, tak mau tahu seberapa  eloknya, dan tak hirau seberapa anggunnya.
.
Pemuda tampan itu bernama Narcissus, ia begitu bangga dengan dirinya, dengan kesempurnaan tubuhnya, dan wajah tampannya. Ia suka berkaca, mematut diri, dan menatap wajahnya lama-lama. Air danau adalah media mengagumi wajah inocennya.
.
Kekaguman akan dirinya kian hari kian menggunung, ia bangga dan mengagungkan ketampanannya.  Yang pada gilirannya ia jatuh cinta pada dirinya sendiri. Ya, jatuh cinta. Yang karena cintanya itu, ia suka berlama-lama berkaca di atas danau. Yang pada akhirnya ia tercebur dan meninggal dunia.
.
Narcissus adalah kisah dalam mitologi Yunani, yang disayangkan karena kekagumannya pada diri sendiri telah menjerumuskan hidupnya. Mungkin dari pemuda bernama Narcissus inilah lahir kata narcissme, narsisme atau narsis. Sebuah gejala mencintai diri sendiri secara berlebihan.
.
Pada dasarnya mencintai diri sendiri adalah boleh, bahkan wajib sebagai bentuk syukur pada Allah Swt yang telah mengaruniakan nikmat. Menjaga kebugarannya, melatih keterampilannya, dan merawat keelokannya.
.
Tapi cinta yang berlebihan (ghuluw) mengakibatkan kerusakan, kerugian dan menyimpang dari fitrah kemanusiaan. Kekaguman yang kelewatan merupakan keburukan, khianat dan keterpurukan.
.
Pada urusan  apapun, kekaguman yang berlebihan itu merugikan. Bukan hanya soal fisik, tapi juga soal pendidikan, pekerjaan, kedudukandan kepemilikan. Merasa lebih mulia, lebih hebat, dan lebih baik dari orang lain, sama dengan menipu diri sendiri. Narsis. []

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply