Slider

Jejak Nabi

Jejak Ulama

Jejak Ksatria

Pejuang Wanita

Jalan Cinta

Tahukah Kamu

» » » Tips Jitu Pa Kiyai Menyentil Santri Nakal


Oleh : Dedeng Juheri

“Saya minta dicatatkan nama-nama santri yang nakal ya!” pinta KH. Ahmad Umar Abdul Manan pada salah seorang santri kepecayaannya.

“Dirangking ya. Paling atas ditulis nama santri ternakal, nakal sekali, nakal, dan terakhir agak nakal.”

Santri yang menjadi lurah pondok itu mengangguk takzim.

Dalam hatinya ia berteriak gembira, betapa gigihnya selama ini menasihati, menegur, bahkan menghukum para santri yang nakal tapi belum juga berhasil.

Para santri nakal itu seolah tak mau berubah, bebal, dan keras kepala. Inilah kesempatan untuk memberi mereka pelajaran.

Penuh semangat lurah pondok itu mencatat nama-nama santri nakal, tidak tanggung-tanggung, dengan spidol hitam yang besar nama itu diurutkan:

TERNAKAL, Somad bin Samud, asal daerah Desa Sukakabur, Kecamatan Sekamaling, Kabupaten Sukagelut.

NAKAL SEKALI, Rudi bin Rido, asal daerah Desa Sukarame, Kecamatan Sukaribut, Kabupaten Sukanyontek.

NAKAL, Anu bin Anu, asal daerah Desa Sukangantuk, Kecamatan Sukatidur, Kabupaten Sukangiler.

AGAK NAKAL, Bagus bin Bagas, asal daerah Desa Sukasenang, Kecamatan Sekasenyum, Kabupaten Sukasuka.

Catatan itu lantas diserahkan pada pak kiyai. Hatinya merasa lega karena mungkin dalam waktu dekat para santri nakal itu akan diganjar hukuman berat.

Seminggu ditunggu, dua minggi terlewat, tapi santri-santri nakal itu tetap tak diberi sanksi apa-apa, mereka tetap nakal seperti biasanya.

Lurah pondok berpikir, “Kok santri-santri nakal itu tetap nakal ya? Kok enggak diusir atau dipanggil kiyai.”

Didorong rasa penasaran, dengan memberanikan diri lurah pondok itu menghadap Kiyai Umar.

“Maaf Kiyai, santri-santri kok belum ada yang dihukum, ditakzir atau diusir?”

“Lho, santri yang mana?”

“Santri-santri yang nakal. Kemarin panjenengan minta daftarnya.”

“Siapa yang mau mengusir? Karena mereka nakal, maka dimasukin ke pondok. Kalau di sini nakal dan terus diusir, ya tetap nakal terus. Dimasukin ke pesantren itu biar tidak nakal.”

“Kok Kiyai memerintahkan mencatat santri-santriyang nakal itu?”

“Begini, kamu kan tahu tiap malam saya setelah Shalat Tahajud kan mendoakan santri-santri. Catatan itu saya bawa, kalau saya berdoa, mereka itu saya khususkan. Tanya dululah kalau belum paham.”

Masya Allah…

Begitulah para ulama guru kita, mungkin di depan mereka galak, membentak, melotot, bahkan menjewer dan menyentil telinga.

Tapi di belakang itu, mereka menangis, memohon ampunan, mendoakan murid-muridnya agar baik, shalih, sukses, dan ilmunya berkah. Bukan karena benci mereka menjewer santrinya, tapi karena sayang dan cinta.

Ini kisah nyata pengalaman Kiyai Haji Ahmad Umar Abdul Manan (1916-1980), pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan Solo. Sebagaimana pula pernah diceritakan guru kami, Ustadz M. Slamet Al-Jawi saat kami menimba ilmu di Mahad Al-Ihsan Bandung.

Semoga Allah karunikan kebaikan,  ampunan, rizki, dan kemudahan urusan bagi beliau dan keluarga.

Amatlah terasa didikan beliau bagi kami, terkadang beliau galak pada yang satu, lalu lembut pada yang lain.

Moga baik sangka bertahta di hati kita, bukan lantaran membeda-bedakan antara satu yang lainnya, tapi begitulan cara mendidik dengan kadar yang ada pada muridnya.

Ada murid yang nurut ketika dinasihati dengan tegas, sebagian yang lain cukup dielus dan dibisiki.

Salam, santri bandel yang pura-pura soleh. ^_^.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
This is the last post.

Tidak ada komentar:

Leave a Reply