Slider

Jejak Nabi

Jejak Ulama

Jejak Ksatria

Pejuang Wanita

Jalan Cinta

Tahukah Kamu

» » » Tjoet Nyak Dhien : Pejuang Wanita yang Menggetarkan Belanda

.
Oleh : Dedeng Juheri

Tak gampang melepaskan cinta yang sekian lama terpahat dalam jiwa. Tapi inilah hidup, tak boleh hanyut dalam bayang-bayang masa lalu. Lelaki tercinta itu kini telah tiada, telah gugur sebagai syuhada di medan tempur yang mulia.

Ya, Teungku Ibrahim Lamnga, menjemput syahid pada 29 Juni 1878 dalam perjuangan melawan Kaphe Ulanda (Kafir Belanda).

Kini seorang lelaki datang meminangnya, lelaki baik, shalih, pemberani nan  ksatria. Hati Tjoet diselimuti kabut ragu, bukan menyangsikan cintanya, tapi khawatir hanya menjadi kekasih manja, ratu bermandi cinta dalam rumahnya.

Tjoet khawatir menerima lelaki itu jadi imam dalam hidupnya, nanti tak bakal diizinkan turun ke kancah medan pertempuran. Tapi dugaannya keliru, ternyata ia seorang lelaki yang mengerti. Teuku Umar mengizinkan, hingga pinangan pun diterimanya.

Tahun 1880 mereka menikah. Membangun keluarga bukan semata merayakan bahagia, tapi menghiasinya dengan cinta, keringat, darah dan air mata. Sebuah keluarga pejuang yang sangat ditakuti Tuan Menir dan sebangsanya.

Wanita kelahiran Lampadang 1848 itu, merupakan putri bangsawan Kesultanan Aceh. Ayahnya Teuku Nanta Seutia merupakan Uleebalang pemimpin nangroe atau kenegerian setingkat kabupaten di VI Mukim Aceh.

Perjuangan melawan penjajah bukan hal baru bagi Tjoet Nyak Dhien, bersama suami pertama Teungku Ibrahim Lamnga, ia sudah melewati manis getir perjuangan semenjak Belanda mengumumkan maklumat perang pada Kesutanan Aceh, 26 Maret 1873.

Sejumlah 3.198 prajurit Belanda disiapkan demi melumpuhkan perjuangan rakyat Aceh. Dibawah pimpinan John Harmen Rudolf Kohler, pada 8 April 1873 Belanda mendarat di pantai Ceureumen dan dengan congkak mereka membakar Masjid Baiturrahman sebagai symbol keagamaan dan kebanggaan masyarakat Aceh.

Ghirah jihad Tjoet Nyak Dien memuncak, "Lihatlah wahai orang-orang Aceh, tempat ibadah kita dirusak! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita menjadi budak.”

Terjadi pertempuran dahsyat yang menyebabkan Kohler, jenderal Belanda itu tewas di tangan pejuang. Jenderal Han van Swieten mengambil alih pimpinan dan menguasai daerah VI Mukim. Keraton Kesultanan Aceh pun setahun kemudian dikuasai Belanda. Pejuang dan rakyat Aceh terpaksa mengungsi pada Desember 1875.

Peristiwa itu lekat terngiang di benaknya. Dan kini sebuah energi baru hadir di tengah-tengah hidupnya. Teuku Umar sebagai pengganti suaminya yang syahid merupakan kekuatan yang membangkitkan semangat perjuangan, bukan hanya dirinya, tapi segenap pejuang dan masyarakat Aceh kembali bangkit untuk mengangkat senjata.

Tahun 1893, Teuku Umar menyerahkan diri dan siap bekerjasama dengan Belanda. Rakyat Aceh kecewa, menganggapnya sebagai pengecut yang gila kekuasaan. Dalam hati Teuku Umar  tak ada niat menyakiti rakyat Aceh, sungguh mereka keliru memahami sikapnya kali ini. Ini hanya sebagai siasat perang, sebagai uapaya untuk mengorek strategi pertempuran KafirBelanda dan demi memperoleh persenjataan.

Tiga tahun Teuku Umar berkamuflasi, tiga tahun pula Belanda dikadali. Ternyata Teuku Umar berbalik menyerang Belanda dan membuat bangsa kulit putih itu marah besar. Belanda kewalahan, selalu kalah di medan pertempuran, dan terpaksa harus beberapa kali mengganti jenderal perangnya demi membunuh Teuku Umar.

Ketentuan Allah pun berlaku, Teuku Umar, menjemput syahid pada Februari 1889 di medan tempur. Sebutir peluru emas merobek tubuh sang mujahid hingga gugur sebagai syuda yang mulia, kejadian ini mengguncang jiwa Tjoet Gambang, putri dari pernikahannya bersama Tjoet Nyak Dhien.

“Allah Maha  Besar. Gambang, sudahlah,” nasihat Tjoen Nyak Dhien, “Ayahmu telah syahid. Gambang, sebagai perempuan Aceh  pantang meneteskan air mata bagi orang yang telah syahid di medan perang.”

Sepeninggal Teuku Umar, Tjoet Nyak Dhien melanjutkan perjuangan mengusir penjajah Belanda dengan penuh keberanian. Usia senja tak meredupkan semangat perjuangannya. Ia tetap menyala. Ia mengambil tumpuk kepemimpinan pergerakan perjuangan di pedalaman Meulaboh.

Dalam melakukan perlawanan, Tjoet bersama pasukannya bergerilya dan bersembunyi di hutan. Namun kondisi kesehatan dan faktor usia membuat sebagian anggota pasukan tak tega, hingga di antara mereka ada yang berinsiatif menemui pihak Belanda untuk memberitahukan peresembunyian. Dengan syarat, Tjeoet harus dijaga, dilindungi, dirawat,  dan diperlakukan dengan baik. Inisiatif ini diambil oleh Pang Laot Ali.

Tjoet Nyak Dhien marah sekali atas perbuatan bawahannya ini. Meskipun niatnya baik, tapi tak sejalan dengan gerak perjuangannya. Tjoet akhirnya ditangkap dan dibawa ke Aceh. Sementara Tjoet Gambang berhasil melarikan diri ke belantara untuk kemudian melanjutkan perjuangan ibunda.

Tjoet Nyak Dhien dibawa ke Aceh dan dalam pengawasan Belanda, namun keberadaannya di negeri rencong itu terus memompa semangat perjuangan rakyat Aceh. Tjoet masih berkomunikasi dengan pejuang. Hingga pihak Belanda mengambil keputusan Tjoet diasingkan agar tak terus berkomunikasi dan  membakar semangat perjuangan rakyat Aceh.

Tjoet dibuang ke Sumedang  Jawa Barat. Oleh pihak Belanda diserahkan ke Bupati Sumedang saat itu, Pangeran Aria Suria Atmaja. Sang bupati tidak tega memperlakukan Tjoet untuk ditempatkan di penjara sebagaimana titah Gubernur Jenderal Belanda JBV Heuts.

Sang bupati menitipkan pengrusan dan perawatan di rumah keluarga KH. Halim. Namun karena rumahnya sedang direnovasi, sehingga untuk sementara dititpkan dirumah KH Ilyas di kampung Kaum, Kelurahan Regol Wetan selama tiga minggu.

Tiba di Sumedang 11 Desember 1906 dan wafat 6 Nopember 1908 pada usia 60 tahun. Dimakamkan di Gunung Puyuh Kabupaten Sumedang.

Pertanyaannya, apa yang dilakukan Tjoet Nyak Dhien selama di Sumedang?

“Pertama datang,” Pak Eman Sanusi, cicit KH. Sanusi yang merupakan juru kunci persemayaman terakhir pejuang Aceh itu, “Ibu Prabu Tjoet fasih bahasa Arab dan Aceh.”

Tjoet Nyak Dhien merupakan seorang  hafidzah, bibirnya senantiasa basah dengan dzikir. Semasa di Sumedang, didampingi R. Sitti Khadijah (cucu  KH. Sanusi), Tjoet mengajarkan al-Quran dan Sunnah pada penduduk setempat. Masyaallah..

Gerimis hati ini menyaksikan gundukan pemakaman  yang dibawahnya bersemayam mujahidah agung nan shalihah. Al Fatihah. []

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply