Slider

Jejak Nabi

Jejak Ulama

Jejak Ksatria

Pejuang Wanita

Jalan Cinta

Tahukah Kamu

» » » Ini Dia Panggilan Istimewa Bagi Suami Istri


Dik Tieng!

Adalah panggilan istimewa Bung Tomo untuk istri tercinta, Sulistina.

Di balik semangat juangnya yang menggelora, sang pengobar semangat Arek-arek Suroboyo itu, ternyata memiliki sisi romantisme dalam kehidupan keluarganya. Ia suami yang hangat dan penuh perhatian.

Saat berpisah dengan keluarganya, Bung Tomo biasanya suka menulis surat cinta, juga puisi romantis untuk menghangatkan kasih sayang di antara mereka.

pexecls.com

Dalam setiap surat yang ditulisnya, Bung Tomo selalu menyertakan panggilan istimewa, di antaranya; Tieng adikku sayang, Tieng bojoku sing denok debleng, Dik  Tinaku sing ayu dewe, Tieng istri pujaanku dan banyak lagi.

Panggilan Tiengke dan Tina Sayang pun kerap diucapkan Bung Tomo untuk mengistimewakan istrinya.

Melati Putih, Pujaan Abadi Hatiku adalah puisi yang beliau tulis di penjara Nirbaya pada hari Senin 26 Juni 1948.

Putih, dikau melatiku
Hiasan hidup sepanjang waktu
Mercusuar dikala gelap dan kelam
Bintang sejuta di kelembutan malam
....
Melati putih pujaan hatiku
Tunas-tunas indahmu
Dengan seizin Tuhanmu dan Tuhanku
Akan membawa kelak
Di bejana nan tak retak
Yang tak jatuh terpukul ombak
Harum wangimu kepada sejarah
Negeri tercinta ini, negeri indah
Ttd. Tomo

Inilah penggalan puisinya. Puisi yang menjadi bingkisan indah nan sulit dilupakan, membuat sang istri tersentuh saat membacanya. Hatinya mekar dan berbunga, wajahnya cerah bercahaya, dan bibirnya senyum bahagia. 

”Mas Tom,” kenang Sulistina, ”merupakan perayu yang ulung. Ia tidak pernah berhenti menyanjung saya setiap waktu. Pada puisi itu, Mas Tom menyebut saya sebagai Merpati Putih, hati siapa yang tak tersanjung disebut seperti itu.”

Setiap orang senang bila dipanggil dengan nama kesayangannya, apalagi yang memanggil orang yang dicintainya. Terlebih bila yang menyematkannya suami, tentu lebih senang lagi. Panggilan istimewa khusus untuk orang yang tercinta.

 Hal serupa kita temukan pula dalam kehidupan para pendahulu kita, Haji Agus Salim memanggil istrinya yang bernama Zainatun Nahar dengan sapaan Maatje Sayang. Bung Hatta memanggil Rahmi Rachim dengan sapaan Yuke. Sementara Ustadz Rahmat Abdullah memanggil Sumarni dengan sapaan Nai.

Yang agung dalam keluarga kenabian adalah Rasullah Saw memanggil Aisyah dengan sapaan Humaira, wahai yang pipinya merah merona. Aisy, yang penuh daya hidup. Muwaffaqah, yang beroleh taufik.

Inilah romantisme kehidupan rumah tangga yang dicontohkan Rasulullah Saw untuk memuliakan, membahagiakan, dan mengistimewakan dengan panggilan kesayangan.

 Rasulullah adalah suami paling romantis, sopan, dan lembut. Bukan hanya pada istrinya, tapi juga pada orang lain disekitarnya. Beliau Saw memuliakan dengan menyapa penuh penghormatan. Misalnya ketika suatu hari beliau Saw mencari Sayidina Ali, ternyata yang ada di rumah hanya putrinya, Fatimah..

”Di mana putra pamanku yang kumuliakan?”

 Lihat, beliau Saw menyebut Sayidina Ali seperti itu. Masya Allah. Beliau adalah Rasul, suami, ayah, mertua, dan tetangga yang sangat mulia. Tauladan bagi kita untuk mengikuti jejak langkahnya.

 Bagi yang selama ini sudah memanggil pasangan dengan sapaan istimewa, lanjutkan agar keluarga penuh kemesraan. Bagi yang belum terbiasa, mulai dibiasakan, tapi jangan tiba-tiba menyapa pasangan dengan panggilan, ”Ya Humaira, kemarilah sayang!”

 ”Aih, cewek mana lagi itu? Mas selingkuh, ya?”

 Repot ’kan kalau begini?

Maka bagi yang belum biasa memanggil dengan mesra, mulainya pelan-pelan saja, selingi dengan canda untuk menyegarkan suasana. Sedikit demi sedikit mulai dibiasakan, insya Allah jadi kebiasaan yang menyenangkan, berpahala, dan berkah.

Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk senantiasa saling memuliakan, terutama dengan pasangan. Memanggil dengan nama kesayangan, sapaan istimewa, dan penuh penghargaan. Semoga berkah menghiasi keluarga dengan kemesraan.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply