Slider

Jejak Nabi

Jejak Ulama

Jejak Ksatria

Pejuang Wanita

Jalan Cinta

Tahukah Kamu

» » » Hari Pahlawan; Antara Fatwa Ulama dan Darah Syuhada



Dari  Surabaya… 

Lelaki perlente itu datang ke Jombang untuk sowan pada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. 

Meminta pertimbangan mengenai ulah Belanda yang ingin kembali menduduki Indonesia, pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sebagai pemenang perang, pasca Perang Dunia II Blok Sekutu yang terdiri dari AS, Inggris, Prancis, dll merasa di atas angin. 

Sementara Blok Central yang terdiri dari Jerman, Austria, Turki dll menanggung kerugian  luar biasa. Termasuk Jepang yang menjajah Indonesia ketar-ketir karena Hirosima dan Nagasaki lumpuh akibat bom atom yang dijatuhkan AS. 

Belanda yang tidak banyak berbuat dalam kemenangan Sekutu, menjadi sombong karena mendapat angin segar atas kemenangan itu. 

Belanda yang pada tahun 1942 diusir Jepang, tahun 1945 kembali mendongakan kepala di hadapan rakyat Indonesia yang sudah merdeka. 

Belanda menggandeng Inggris untuk kembali menduduki Indonesia. Jelas saja rakyat Indonesia geram.

Mendengar uraian lelaki shalih ini, Hadratus Syaikh mengatakan, “Kita perang saja,  ulama membantu, santri-santri membantu.”

Berbekal restu dari ulama terkemuka, lelaki yang bernama Sutomo itu kembali ke Surabaya dan langsung berorasi melalui corong Radio Pemberontak.

“Saudara-saudara, Allahu akbar! Semboyan kita tetap, merdeka atau mati. Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilahkemenangan akanjatuh ke tangan kita sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Allah akan melindungi kita sekalian.”

“Allahu akbar!”

“Allahu akbar!”

“Allahu akbar!”

“Merdeka!”

Teriak Bung Tomo. 

Rakyat Surabaya terbakar semangatnya, ghirah jihad menyala dalam dada mereka. Penjajah kafir itu harus diusir, harus hengkang dari bumi pertiwi. 

Siapa lawan Indonesia saat ini?

Bukan lagi Belanda, melainkan Blok Sekutu yang dimotori Inggris atas rengekan Belanda. 

Blok Sekutu yang pernah mengerahkan Brigadir 49, pasukan terbaik yang memecundangi Jepang di Burma, kini dikirim ke Indonesia dibawah pimpinan Brigadir Jenderal Mallaby.

Lantas apa yang terjadi?

Saat Blok Sekutu sedang jaya-jayanya, justru di Indonesia jenderal terbaiknya mati digempur rakyat Surabaya. 

Kematian Brigjen Malllaby ini menyalakan kemarahan kordinator Sekutu untuk Asia Tenggara, Letnan Jenderal Sir Philip  Christison.  

Insiden matinya Brigjen Mallaby itu menyebabkan Letjen Philip kalap dan mengirimkan Mayor Jenderal  E.C. Manserg, jenderal yang mengalahkan Jenderal Romel di Afrika yang membawahi pasukan Divisi ke-5 bersama 24.000 pasukan untuk menggempur Surabaya, ditambah 6000 brigade 45 The Fihgthing Cock dengan alat perang canggih, Thank Sherman,  25 Ponder, 37 Howitzer, 4 kapal perang  Destroyer, dan 12 pesawat Mosquito.

Terjadilah pertempuran dahsyat, bukan hanya bagi bangsa Indonesia, tapi bagi Blok Sekutu pun mengakui bahwa Pertempuran Arek-arek Suroboyo ini merupakan perang dahsyat di dunia. 

Terkenal dengan pertempuran 10 Nopember, yang hingga saat  ini diperingati sebagai hari pahlawan nasional.

Apa pelajarannya?

Indonesia ini unik, saat Tentara Sekutu meraih kemenangan demi kemenangan di berbagai wilayah dan negara, tapi tidak di Indonesia. 

Saat para panglima perang dari Rusia, Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Asia pulang dengan bangga karena membawa kemenangan, justru panglima dari negara antah-barantah Indonesia pulang tinggal nama. Itulah Indonesia.


Good by Jenderal Mallaby

#selamat hari pahlawan

_____

Sebagai sarana komunikasi dg penulis, sila boleh di sini:

fb: Ki Dedeng Juheri

ig: @dedengjuheri

twitter: @dedengjuheri

«
Next
This is the most recent post.
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply